Thursday, December 4, 2014

BOOK CHAPTER REVIEW-Sejarah PAUD dalam Perspektif Multikultur

Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini
dalam Perspektif Multikultur
Dalam Buku Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pendekatan
Penulis: Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson

Disusun oleh:
Irma Angela Soekma            NIM: 1402252           

Program Pasca Sarjana
Pendidikan Anak Usia Dini
Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung
2014

A.    IDENTITAS BAB

a.       Judul         : Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif           
  Multikultur

b.      Pengarang : Blythe F. Hinitz

c.       Halaman    : 2 - 27

d.      Penerbit     : Kencana Prenada Media Group, 2011


B.     ISI BAB
Dalam bab ini dipaparkan mengenai gambaran sejarah singkat pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat yang telah mengalami perjalanan panjang dan beragam. Walaupun mendapatkan pengaruh dari Eropa, akan tetapi sebenarnya pendidikan anak usia dini telah berakar pada Penduduk Asli Amerika dan tersistem. Pengaruh dari Eropa itu sendiri sebenarnya sudah merupakan proses asimilasi dari berbagai negara. Di antaranya yang menonjol adalah dari Jerman, Inggris dan Italia dengan metode pendekatannya masing-masing yang secara garis besar dapat dilihat dari dua bentuk pengasuhan dan pendidikan utama yang didasarkan pada tingkat sosial ekonomi yaitu yang berbasis keluarga pada tingkat sosio-ekonomi rendah dan formal untuk tingkat sosio-ekonomi menengah ke atas.
Merupakan negara yang multikultur membuat Amerika mengalami pasang surut dalam memfasilitasi pendidikan di negaranya. Kendala keragaman kultur menjadi salah satu permasalahan yang mengakar, yang terutama dialami oleh kebanyakan warga asli Amerika dan kaum minoritas seperti Suku Indian, warga kulit hitam dan Latin bahkan warga imigran termasuk pendatang dari beberapa negara di Asia seperti Cina, Jepang dan India yang cukup banyak menjadi warga negara Amerika.
Menjadi kelompok masyarakat asli Amerika tidak serta merta membuat anak-anak suku Indian mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak para penjajah yang datang dari Eropa. Pada awal abad ke-18 pemerintah Amerika memang membuka sekolah untuk anak-anak Indian Amerika akan tetapi tampak jelas bahwa sekolah ditugaskan untuk mengasimilasikan dan menghilangkan secara paksa ciri khas dan identitas kesukuan anak-anak Indian ke dalam budaya kaum penjajah. Pada abad ke-19, melalui Undang-undang Reformasi Federal, kaum Indian Amerika mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tanpa khwatir kehilangan identitas kesukuannya serta keterlibatan pemimpin suku dalam proses pendidikan dalam mendukung pelestarian kultur dan budaya pada generasi Indian Amerika. Meskipun kebijakan pemerintah AS terhadap hak-hak pendidikan bagi warga Indian Amerika telah diberlakukan melalui program No Child Left Behind (NCLB) pada tahun 2004, akan tetapi perubahan yang signifikan baru terjadi pada tahun 2007. Meskipun pendidikan anak-anak usia dini tidak bersifat wajib akan tetapi kemajuan dalam pendidikan anak usia dini warga asli Amerika ini dalam hal pemberian hak yang sama untuk mendapatkan guru yang kompeten di bidangnya, pendanaan dari permerintah dan kesempatan untuk melakukan upgrading melalui evaluasi program-program yang telah berhasil menunjukkan peningkatan.
Sementara itu, pada abad ke-16, bagi anak-anak kaum budak Afrika, dikarenakan status orangtua mereka yang tidak diberikan banyak pilihan hidup, maka pendidikan mereka sepenuhnya terletak pada kaum penjajah yang ditujukan dalam rangka pengkristenisasian. Sekolah resmi untuk keturunan kulit hitam Amerika baru dibuka pada abad ke-17 seiring dengan penghapusan perbudakan, meskipun diskriminasi belum sepenuhnya dapat dihilangkan. Pada abad ke-18, didirikan Taman Kanak-kanak Kulit Berwarna dan Sekolah Bermain untuk Kulit Hitam dan Kulit Putih dalam satu gedung. Mulai awal abad ke-19, cara pandang yang berbeda muncul dimana tujuan awal pendidikan anak usia dini yang hanya terfokus pada pengasuhan semata menjadi lebih terstruktur dan terprogram. Perubahan signifikan terjadi ketika para ahli di bidang pendidikan anak usia dini bersepakat untuk mempromosikan pembentukan tempat pengasuhan dan taman kanak-kanak di Amerika termasuk dibukanya program pengasuhan anak selama jam kerja bagi anak-anak yang tercabut dari kebudayaannya.
Kondisi yang agak berbeda dialami oleh anak-anak kaum imigran yang sama sekali tidak mengerti dan berbicara bahasa Inggris. Meskipun secara status sosial kaum imigran tidak dipandang serendah para budak kulit hitam dikarenakan alasan keberadaan mereka di Amerika yaitu untuk mencari pendidikan dan pengasuhan yang layak, akan tetapi keterbatasan mereka dalam memahami bahasa menjadi kendala yang cukup untuk memarjinalkan mereka dalam sistem pendidikan di Amerika. Sebagaimana halnya suku Indian Amerika, anak-anak warga imigran mengalami pemaksaan penghilangan identitas budaya dan bahasa.Terjadinya Perang Sipil dan Depresi pada tahun  1873 berkontribusi pada munculnya taman kanak-kanak gratis dengan pesat. Keterbatasan dana dalam pengelolaan sekolah-sekolah gratis ini berimbas pada penurunan mutu pendidikan dan pemusatan tujuan utama sekolah yaitu membentuk warga negara AS yang ideal dengan mengesampingkan identitas dan ciri khas budaya dan bahasa para anak-anak kaum imigran.
Adapun pada kasus anak-anak keturunan Hispanik atau Latin yang orangtuanya bermigrasi ke Amerika, dikarenakan kondisi ekonomi yang bergantung pada pekerjaan bergaji rendah dan tidak tetap, mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke  taman kanak-kanak atau pra-sekolah yang formal sehingga pengasuhan dan pendidikan bergantung pada anggota keluarga atau kerabat yang dipercaya. Kondisi ini membangkitkan inisiatif secara swadaya dari para ibu anak-anak Latin untuk membentuk kelompok belajar dalam rangka mengurangi kesenjangan tingkat prestasi anak-anak Latin dan non-Hispanik.
Sementara itu, pendidikan anak usia dini di Amerika juga tidak lepas dari permasalahan dengan para imigran yang datang dari benua Asia, diantaranya dari Cina, Jepang dan India Asia Termasuk di dalam gelombang imigrasi ini adalah orang-orang berkebangsaan India, Vietnam, Kamboja, dan beberapa dari bangsa lain dengan latar belakang kepindahan disebabkan oleh perang atau situasi negara yang tidak aman. Secara garis besar, pada awal masa imigrasi bangsa-bangsa ini ke Amerika, kondisi pendidikan anak-anak usia dini mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif, mulai dari penolakan untuk dapat diterima di sekolah negeri hingga diberikan hak bersekolah di tempat yang terpencil dan terpisah dari anak-anak yang berasal dari Eropa. Seiring perjalanan waktu dan perubahan fundamental dalam peraturan perundangan Amerika, anak-anak yang disebut ‘bangsa timur’ ini mulai mendapatkan hak-hak yang sama dalam hal mendapatkan pendidikan yang baik dan layak.
Keduabahasaan menjadi salah satu fokus pemerintah AS dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi anak usia dini. Berbagai pendekatan dilakukan dalam rangka membuka kesempatan yang sama bagi semua anak untuk dapat sukses tanpa mengesampingkan latar belakang budaya dan bahasa.
Dalam konteks sejarah pendidikan anak usia dini Amerika, wanita mendapatkan peran yang sangat besar. Tekanan, keterbatasan dan kebutuhan untuk memberikan pendidikan yang baik kepada generasi mereka telah menempa para wanita Amerika untuk menjadi pemimpin-pemimpin dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Di antara mereka menempati posisi penting dalam pemerintahan dan organisasi-organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan.

C.    PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis berhasil memberikan gambaran singkat yang padat dan rapi mengenai sejarah pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat. Penjelasan mengenai asal muasal kemultikulturan di negara ini memberikan pengetahuan awal yang baik untuk mengenal perkembangan pendidikan khususnya anak usia dini di Amerika.
Amerika Serikat sebagai salah satu negara besar di dunia dan menjadi salah satu negara yang dijadikan acuan dalam bidang pendidikan anak usia dini oleh berbagai negara lain. Karenanya sangat penting untuk mengetahui dan mempelajari sejarah dibalik sistem pendidikan yang diselenggarakan di negara ini. Dalam perjalanannya, pendidikan anak usia dini di Amerika mengalami berbagai kendala terutama dari segi kebahasaan.
Dalam salah satu tayangan televisi swasta Amerika (MSNBC:Cenk U.S. Education Failure and Potential) disebutkan bahwa Amerika berada di bawah 20 besar negara dengan tingkat keberhasilan pendidikan. Sangat menarik karena dengan menilik pada pengalaman sejarah yang cukup panjang, ternyata negara ini pun masih berjuang untuk mendapatkan pola dan sistem pendidikan yang ideal bagi warga negaranya. Yang cukup menarik adalah terjadinya perubahan paradigma terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini dari kepentingan sosialisasi suatu agama menjadi pendidikan sebagai hak individu. Dan ini tidak lepas dari pengaruh para pemikir pendidikan anak usia dini seperti John Locke (1632), Jean-Jacque Rosseau (1712), Pestalozzi (1746) dan Froebel (1782) yang kesemuanya mengedepankan hak-hak anak usia dini dalam mendapatkan pengasuhan, kasih sayang dan pendidikan yang baik dan layak dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan tiap-tiap individu anak (Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson, 1993, p.3-10; Jo Ann Brewer, 2007, p.7).
Salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah pendidikan anak usia dini di Amerika adalah peran wanita terutama para ibu dalam memberikan pendidikan bagi generasi penerus mereka. Dalam dunia pendidikan anak usia dini, dominasi berada dalam potensi kaum perempuan, mulai dari pendidik maupun pimpinan. Hal ini salah satunya didorong oleh naluri wanita yang bersifat mengasuh, disamping faktor-faktor lain yang mendukung wanita memegang peranan utama dalam kependidikan anak usia dini.

D.    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Perjalanan panjang sejarah pendidikan anak usia dini di Amerika yang diwarnai oleh keanekaragaman budaya dari berbagai bangsa telah memperkaya pengalaman negara ini dalam membuat progam-program pendidikan anak usia dini yang lebih baik dan mengakomodir tujuan pendidikan AS. Dari sisi anak-anak Amerika, multikultur telah menjadi bagian dari tiap sisi kehidupan mereka dan hal ini membuat mereka menjadi warga negara yang menghargai perbedaan. Selain itu, kaum wanita tidak hanya menjadi penonton pasif dalam proses pendidikan. Adanya kesempatan dan semangat untuk memberikan perubahan telah membangkitkan dan membentuk kekuatan dan kemampuan para wanita Amerika untuk menjadi pemimpin-pemimpin dalam bidang pendidikan anak usia dini.
.Dalam bab ini penulis dapat memberikan sejarah singkat perjalanan sejarah pendidikan anak usia dini di negara lain dalam konteks multikulturalisme seperti Australia, Indonesia atau Singapura sehingga dapat lebih luas dijadikan rujukan bagi pendidik di berbagai negara dengan kondisi yang kurang lebih sama.
Dengan melihat dari perjalanan sejarah pendidikan anak usia di Amerika dan membandingkannya dengan sistem pendidikan anak usia dini di Indonesia, timbul berbagai pertanyaan seperti apakah sistem pendidikan di Indonesia dapat disamakan dengan Amerika dengan mempertimbangkan kondisi multikultural kedua negara? Apakah dapat disamakan pengaruh latar belakang budaya dan bahasa dari warga negara dari bangsa yang berbeda dengan suku yang berbeda? Apakah peraturan perundangan-undangan Indonesia siap mengakomodir setiap perbedaan budaya dalam konteks pendidikan anak usia dini? Sejauh mana budaya dan bahasa pada saat yang bersamaan dapat menjadi seperti dua mata pedang – faktor pendukung atau penghambat pendidikan anak usia dini di Indonesia? Dan sebagaimana efek domino, pertanyaan-pertanyaan lain akan terus mengalir untuk menggugah pemikiran.

E.     DAFTAR RUJUKAN
Brewer, Jo An, Introduction to Early Childhood Education – Preschool through Primary Grades, 2007, Pearson Education, Inc.
Roopnarine, Jaipul L.&Johnson, James E., Approaches to Early Childhood Education, 1993, MacMillan Publishing Company.

No comments:

Post a Comment