Sejarah
Pendidikan Anak Usia Dini
dalam
Perspektif Multikultur
Dalam
Buku Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pendekatan
Penulis: Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson
Disusun
oleh:
Irma
Angela Soekma NIM: 1402252
Program
Pasca Sarjana
Pendidikan
Anak Usia Dini
Universitas
Pendidikan Indonesia
Bandung
2014
A.
IDENTITAS
BAB
a. Judul : Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini
dalam Perspektif
Multikultur
b. Pengarang : Blythe F. Hinitz
c. Halaman : 2 - 27
d. Penerbit : Kencana Prenada Media Group, 2011
B.
ISI
BAB
Dalam bab ini dipaparkan mengenai gambaran
sejarah singkat pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat yang telah
mengalami perjalanan panjang dan beragam. Walaupun mendapatkan pengaruh dari
Eropa, akan tetapi sebenarnya pendidikan anak usia dini telah berakar pada
Penduduk Asli Amerika dan tersistem. Pengaruh dari Eropa itu sendiri sebenarnya
sudah merupakan proses asimilasi dari berbagai negara. Di antaranya yang
menonjol adalah dari Jerman, Inggris dan Italia dengan metode pendekatannya
masing-masing yang secara garis besar dapat dilihat dari dua bentuk pengasuhan
dan pendidikan utama yang didasarkan pada tingkat sosial ekonomi yaitu yang
berbasis keluarga pada tingkat sosio-ekonomi rendah dan formal untuk tingkat
sosio-ekonomi menengah ke atas.
Merupakan negara yang multikultur
membuat Amerika mengalami pasang surut dalam memfasilitasi pendidikan di
negaranya. Kendala keragaman kultur menjadi salah satu permasalahan yang
mengakar, yang terutama dialami oleh kebanyakan warga asli Amerika dan kaum minoritas
seperti Suku Indian, warga kulit hitam dan Latin bahkan warga imigran termasuk
pendatang dari beberapa negara di Asia seperti Cina, Jepang dan India yang
cukup banyak menjadi warga negara Amerika.
Menjadi kelompok masyarakat asli Amerika
tidak serta merta membuat anak-anak suku Indian mendapatkan perlakuan yang sama
dengan anak-anak para penjajah yang datang dari Eropa. Pada awal abad ke-18
pemerintah Amerika memang membuka sekolah untuk anak-anak Indian Amerika akan
tetapi tampak jelas bahwa sekolah ditugaskan untuk mengasimilasikan dan
menghilangkan secara paksa ciri khas dan identitas kesukuan anak-anak Indian ke
dalam budaya kaum penjajah. Pada abad ke-19, melalui Undang-undang Reformasi
Federal, kaum Indian Amerika mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan
tanpa khwatir kehilangan identitas kesukuannya serta keterlibatan pemimpin suku
dalam proses pendidikan dalam mendukung pelestarian kultur dan budaya pada
generasi Indian Amerika. Meskipun kebijakan pemerintah AS terhadap hak-hak pendidikan
bagi warga Indian Amerika telah diberlakukan melalui program No Child Left
Behind (NCLB) pada tahun 2004, akan tetapi perubahan yang signifikan baru terjadi
pada tahun 2007. Meskipun pendidikan anak-anak usia dini tidak bersifat wajib
akan tetapi kemajuan dalam pendidikan anak usia dini warga asli Amerika ini
dalam hal pemberian hak yang sama untuk mendapatkan guru yang kompeten di
bidangnya, pendanaan dari permerintah dan kesempatan untuk melakukan upgrading melalui evaluasi
program-program yang telah berhasil menunjukkan peningkatan.
Sementara itu, pada abad ke-16, bagi
anak-anak kaum budak Afrika, dikarenakan status orangtua mereka yang tidak
diberikan banyak pilihan hidup, maka pendidikan mereka sepenuhnya terletak pada
kaum penjajah yang ditujukan dalam rangka pengkristenisasian. Sekolah resmi
untuk keturunan kulit hitam Amerika baru dibuka pada abad ke-17 seiring dengan
penghapusan perbudakan, meskipun diskriminasi belum sepenuhnya dapat
dihilangkan. Pada abad ke-18, didirikan Taman Kanak-kanak Kulit Berwarna dan
Sekolah Bermain untuk Kulit Hitam dan Kulit Putih dalam satu gedung. Mulai awal
abad ke-19, cara pandang yang berbeda muncul dimana tujuan awal pendidikan anak
usia dini yang hanya terfokus pada pengasuhan semata menjadi lebih terstruktur
dan terprogram. Perubahan signifikan terjadi ketika para ahli di bidang
pendidikan anak usia dini bersepakat untuk mempromosikan pembentukan tempat
pengasuhan dan taman kanak-kanak di Amerika termasuk dibukanya program
pengasuhan anak selama jam kerja bagi anak-anak yang tercabut dari
kebudayaannya.
Kondisi yang agak berbeda dialami oleh
anak-anak kaum imigran yang sama sekali tidak mengerti dan berbicara bahasa
Inggris. Meskipun secara status sosial kaum imigran tidak dipandang serendah
para budak kulit hitam dikarenakan alasan keberadaan mereka di Amerika yaitu
untuk mencari pendidikan dan pengasuhan yang layak, akan tetapi keterbatasan
mereka dalam memahami bahasa menjadi kendala yang cukup untuk memarjinalkan
mereka dalam sistem pendidikan di Amerika. Sebagaimana halnya suku Indian
Amerika, anak-anak warga imigran mengalami pemaksaan penghilangan identitas
budaya dan bahasa.Terjadinya Perang Sipil dan Depresi pada tahun 1873 berkontribusi pada munculnya taman kanak-kanak
gratis dengan pesat. Keterbatasan dana dalam pengelolaan sekolah-sekolah gratis
ini berimbas pada penurunan mutu pendidikan dan pemusatan tujuan utama sekolah
yaitu membentuk warga negara AS yang ideal dengan mengesampingkan identitas dan
ciri khas budaya dan bahasa para anak-anak kaum imigran.
Adapun pada kasus anak-anak keturunan
Hispanik atau Latin yang orangtuanya bermigrasi ke Amerika, dikarenakan kondisi
ekonomi yang bergantung pada pekerjaan bergaji rendah dan tidak tetap, mereka
tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke
taman kanak-kanak atau pra-sekolah yang formal sehingga pengasuhan dan
pendidikan bergantung pada anggota keluarga atau kerabat yang dipercaya.
Kondisi ini membangkitkan inisiatif secara swadaya dari para ibu anak-anak
Latin untuk membentuk kelompok belajar dalam rangka mengurangi kesenjangan
tingkat prestasi anak-anak Latin dan non-Hispanik.
Sementara
itu, pendidikan anak usia dini di Amerika juga tidak lepas dari permasalahan
dengan para imigran yang datang dari benua Asia, diantaranya dari Cina, Jepang
dan India Asia Termasuk di dalam gelombang imigrasi ini adalah orang-orang
berkebangsaan India, Vietnam, Kamboja, dan beberapa dari bangsa lain dengan
latar belakang kepindahan disebabkan oleh perang atau situasi negara yang tidak
aman. Secara garis besar, pada awal masa imigrasi bangsa-bangsa ini ke Amerika,
kondisi pendidikan anak-anak usia dini mereka mendapatkan perlakuan
diskriminatif, mulai dari penolakan untuk dapat diterima di sekolah negeri
hingga diberikan hak bersekolah di tempat yang terpencil dan terpisah dari
anak-anak yang berasal dari Eropa. Seiring perjalanan waktu dan perubahan
fundamental dalam peraturan perundangan Amerika, anak-anak yang disebut ‘bangsa
timur’ ini mulai mendapatkan hak-hak yang sama dalam hal mendapatkan pendidikan
yang baik dan layak.
Keduabahasaan
menjadi salah satu fokus pemerintah AS dalam memberikan pelayanan pendidikan
bagi anak usia dini. Berbagai pendekatan dilakukan dalam rangka membuka
kesempatan yang sama bagi semua anak untuk dapat sukses tanpa mengesampingkan
latar belakang budaya dan bahasa.
Dalam
konteks sejarah pendidikan anak usia dini Amerika, wanita mendapatkan peran
yang sangat besar. Tekanan, keterbatasan dan kebutuhan untuk memberikan
pendidikan yang baik kepada generasi mereka telah menempa para wanita Amerika untuk
menjadi pemimpin-pemimpin dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Di antara
mereka menempati posisi penting dalam pemerintahan dan organisasi-organisasi
non-pemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan.
C. PEMBAHASAN
Dalam
bab ini penulis berhasil memberikan gambaran singkat yang padat dan rapi
mengenai sejarah pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat. Penjelasan
mengenai asal muasal kemultikulturan di negara ini memberikan pengetahuan awal
yang baik untuk mengenal perkembangan pendidikan khususnya anak usia dini di
Amerika.
Amerika
Serikat sebagai salah satu negara besar di dunia dan menjadi salah satu negara
yang dijadikan acuan dalam bidang pendidikan anak usia dini oleh berbagai
negara lain. Karenanya sangat penting untuk mengetahui dan mempelajari sejarah
dibalik sistem pendidikan yang diselenggarakan di negara ini. Dalam
perjalanannya, pendidikan anak usia dini di Amerika mengalami berbagai kendala
terutama dari segi kebahasaan.
Dalam
salah satu tayangan televisi swasta Amerika (MSNBC:Cenk U.S. Education Failure and Potential) disebutkan bahwa
Amerika berada di bawah 20 besar negara dengan tingkat keberhasilan pendidikan.
Sangat menarik karena dengan menilik pada pengalaman sejarah yang cukup panjang,
ternyata negara ini pun masih berjuang untuk mendapatkan pola dan sistem
pendidikan yang ideal bagi warga negaranya. Yang cukup menarik adalah
terjadinya perubahan paradigma terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini
dari kepentingan sosialisasi suatu agama menjadi pendidikan sebagai hak
individu. Dan ini tidak lepas dari pengaruh para pemikir pendidikan anak usia
dini seperti John Locke (1632), Jean-Jacque Rosseau (1712), Pestalozzi (1746)
dan Froebel (1782) yang kesemuanya mengedepankan hak-hak anak usia dini dalam
mendapatkan pengasuhan, kasih sayang dan pendidikan yang baik dan layak dengan
memperhatikan berbagai aspek perkembangan tiap-tiap individu anak (Jaipul
L.Roopnarine&James E.Johnson, 1993, p.3-10; Jo Ann Brewer, 2007, p.7).
Salah
satu bagian penting dalam perjalanan sejarah pendidikan anak usia dini di
Amerika adalah peran wanita terutama para ibu dalam memberikan pendidikan bagi
generasi penerus mereka. Dalam dunia pendidikan anak usia dini, dominasi berada
dalam potensi kaum perempuan, mulai dari pendidik maupun pimpinan. Hal ini
salah satunya didorong oleh naluri wanita yang bersifat mengasuh, disamping
faktor-faktor lain yang mendukung wanita memegang peranan utama dalam
kependidikan anak usia dini.
D. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Perjalanan
panjang sejarah pendidikan anak usia dini di Amerika yang diwarnai oleh
keanekaragaman budaya dari berbagai bangsa telah memperkaya pengalaman negara
ini dalam membuat progam-program pendidikan anak usia dini yang lebih baik dan
mengakomodir tujuan pendidikan AS. Dari sisi anak-anak Amerika, multikultur
telah menjadi bagian dari tiap sisi kehidupan mereka dan hal ini membuat mereka
menjadi warga negara yang menghargai perbedaan. Selain itu, kaum wanita tidak
hanya menjadi penonton pasif dalam proses pendidikan. Adanya kesempatan dan
semangat untuk memberikan perubahan telah membangkitkan dan membentuk kekuatan
dan kemampuan para wanita Amerika untuk menjadi pemimpin-pemimpin dalam bidang
pendidikan anak usia dini.
.Dalam
bab ini penulis dapat memberikan sejarah singkat perjalanan sejarah pendidikan
anak usia dini di negara lain dalam konteks multikulturalisme seperti Australia,
Indonesia atau Singapura sehingga dapat lebih luas dijadikan rujukan bagi
pendidik di berbagai negara dengan kondisi yang kurang lebih sama.
Dengan melihat dari perjalanan sejarah
pendidikan anak usia di Amerika dan membandingkannya dengan sistem pendidikan
anak usia dini di Indonesia, timbul berbagai pertanyaan seperti apakah sistem
pendidikan di Indonesia dapat disamakan dengan Amerika dengan mempertimbangkan
kondisi multikultural kedua negara? Apakah dapat disamakan pengaruh latar
belakang budaya dan bahasa dari warga negara dari bangsa yang berbeda dengan
suku yang berbeda? Apakah peraturan perundangan-undangan Indonesia siap
mengakomodir setiap perbedaan budaya dalam konteks pendidikan anak usia dini?
Sejauh mana budaya dan bahasa pada saat yang bersamaan dapat menjadi seperti
dua mata pedang – faktor pendukung atau penghambat pendidikan anak usia dini di
Indonesia? Dan sebagaimana efek domino, pertanyaan-pertanyaan lain akan terus
mengalir untuk menggugah pemikiran.
E. DAFTAR RUJUKAN
Brewer, Jo An, Introduction to Early Childhood Education –
Preschool through Primary Grades, 2007, Pearson Education, Inc.
Roopnarine, Jaipul
L.&Johnson, James E., Approaches to
Early Childhood Education, 1993, MacMillan Publishing Company.
No comments:
Post a Comment