Pendidikan
Montessori Saat ini
Penulis:
Martha Torrence dan John Chattin-McNichols
Dalam
Buku Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pendekatan
Penulis: Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson
Disusun oleh:
Irma
Angela Soekma NIM: 1402252
Program
Pasca Sarjana
Pendidikan
Anak Usia Dini
Universitas
Pendidikan Indonesia
Bandung
2014
A. IDENTITAS BAB
a. Judul : Pendidikan Montessori Saat ini
b. Pengarang : Martha Torrence dan John Chattin-McNichols
c. Halaman : 381-415
d. Penerbit : Kencana Prenada Media Group, Indonesia,
2009
B.
ISI
BAB
Bab ini memberikan sejarah singkat
Pendekatan Montessori yang merupakan salah satu pendekatan pionir dalam
pendidikan anak usia dini di Amerika dan diadopsi di beberapa sekolah di
seluruh dunia. Dijelaskan bahwa awal mula pendekatan Montessori dicetuskan oleh
seorang dokter wanita berkebangsaan Italia yang juga bergerak di bidang
antropologi bernama Maria Montessori. Adapun dalam profesinya sebagai dokter,
ia banyak menangani anak-anak usia dini yang mengalami cacat dan membuat
program pengasuhan untuk membantu mereka. Dalam perkembangannya, metode
Montessori mendapat tempat dikarenakan program yang kuat dan melibatkan berbagai
jenjang usia anak serta fleksibilitas dalam adaptasi ke budaya dan lingkungan
manapun.
Perbedaan yang cukup signifikan
dari pendekatan Montessori dibandingkan dengan pendekatan pendidikan lainnya
antara lain dapat dilihat dari:
1.
Pembauran pengelompokan usia dalam satu
kelas/ruangan berdasarkan range usia
per 3 tahun – anak usia 3-5 tahun, 6-8 tahun dan seterusnya.
2.
Seting ruangan kelas yang dipenuhi
rak-rak yang mudah diakses oleh anak dan terbuka yang dipenuhi dengan objek dan
material yang diatur dengan cermat untuk dapat dipilih oleh anak-anak sesuai
dengan minat mereka.
3.
Penyediaan ruang terbuka di lantai
sehingga anak-anak dapat bekerja dengan bebas.
4.
Masing-masing anak memiliki alat peraga
yang mereka buat sendiri.
5.
Tidak ada suasana kompetisi di antara
siswa. Siswa menyelesaikan tugas mereka sesuai dengan minat dan ritme kerja
masing-masing. Sebagai gantinya suasana kolaborasi tercipta melalui kerjasama
antar siswa, terutama dari anak yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ditanamkan pada diri siswa bahwa guru bukan
satu-satunya sumber ilmu.
6.
Asesmen atau penilaian siswa didasarkan
pada perkembangan masing-masing individu melalui portofolio atau hasil kerja
serta observasi guru secara intensif dan berkesinambungan.
7.
Penanaman tanggungjawab individu melalui
pembiasaan pemeliharaan kelas, termasuk kerapihan dan kebersihan.
Dilihat dari segi kurikulum,
Pendekatan Montessori banyak memasukkan kegiatan yang berhubungan dengan
kehidupan praktis, penginderaan, bahasa, matematika, seni dan musik dan budaya
secara geografis dan sains.
Peranan guru menurut pendekatan
Montessori bukan sebagai ‘pengajar’ melainkan pengamat yang secara aktif meneliti
dan mengikuti setiap perkembangan anak serta memberikan materi yang responsif
serta memberikan saran, bimbingan, stimulasi dan dorongan yang sesuai pada
siswa.
C.
PEMBAHASAN
Metode Montessori merupakan salah
satu bentuk pendekatan dalam dunia pendidikan yang telah teruji waktu selama
lebih dari 100 tahun. Keberhasilannya dalam memberikan pespektif yang berbeda
terhadap pendidikan dan perkembangan anak telah membuat banyak negara yang
mengadopsi atau memodifikasi pendekatan ini. Montesorri memandang kebebasan
mengeksplorasi dan mencoba-coba mutlak diberikan kepada anak-anak untuk
mencapai perkembangan yang maksimum serta menjadi manusia yang bertanggungjawab
dan kelak mampu menjadi bagian dari masyarakat secara sukses.
Pembelajaran dalam pendekatan Montessori
berpusat pada anak dan bermain merupakan bagian dari proses perkembangan
mereka. Montesorri meyakini bahwa anak membangun pikirannya selangkah demi
selangkah dan menyerap pengetahuan melalui pengalaman dalam perkembangannya.
Hal ini otomatis mematahkan pandangan konservatif bahwa anak-anak terlahir
dengan ‘fixed intelligence’ dan
faktor keturunan merupakan satu-satunya penentu perkembangan anak. Pemikiran
Montessori banyak mendapatkan pengaruh dari Rosseau, Pestalozzi dan Froebel
dimana penekanan terhadap pentingnya lingkungan yang bebas dan penuh kasih
sayang berdampak terhadap berkembangnya potensi bawaan anak. Dua hal yang
sangat vital dalam perkembangan anak adalah interaksi terpadu antara anak dan
lingkungannya serta kebebasan bagi anak.
Pengalaman penulis yang merupakan pengajar
Montesorri berpengalaman selama lebih dari 35 tahun mampu memberikan gambaran
secara singkat dan padat tentang sistem pembelajaran kelas Montessori. Salah
satu hal yang cukup penting yang disampaikan adalah mengenai pengaturan ruang
kelas yang cukup luas dimana anak dapat menggunakan ruang terbuka secara bebas
dalam melakukan kegiatan yang menjadi minat dan ketertarikan mereka. Hal ini
menjadi salah satu faktor pendukung pembelajaran dalam memberikan rasa bebas
bagi anak dalam mengeksplorasi.
Peran guru ditampilkan dengan
sangat baik dalam buku ini sehingga memberikan gambaran mengenai posisi guru
dalam proses pembelajaran dan perkembangan anak. Dengan peran guru sebagai
pembimbing dan bukan satu-satunya sumber ilmu memberikan kesempatan pada anak
untuk berinteraksi dan mengembangkan kecakapan sosialnya dengan orang lain di
sekitarnya. Anak belajar untuk mandiri dan menentukan sendiri bentuk bantuan
yang dibutuhkannya serta memikirkan kepada siapa atau dimana ia bisa mencari
jawaban atas pertanyaan atau kesulitannya. Dalam hal ini anak memegang kendali
penuh atas pembelajarannya yang otomatis memberikan efek positif bagi
pembangunan kepercayaan dirinya.
Anak mengingat sesuatu dengan
sangat kuat dan dalam jangka waktu yang lama ketika ia mampu mengkoneksikan pembelajarannya
langsung dengan apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pengelompokan
kelas berdasarkan pembauran usia mewakili realitas hidup bahwa manusia
berinteraksi dengan berbagai karakter, usia dan kemampuan yang sama maupun
berbeda. Hal ini memberikan kesempatan
kepada anak untuk belajar mengenali lingkungannya dan beradaptasi dengan
orang-orang disekitarnya yang kelak akan berkontribusi pada pembangunan
karakter positif dalam membangun hubungan sosial. Disiplin yang ditanamkan
adalah dalam bentuk tanggungjawab yang diejawantahkan secara nyata dalam
rutinitas menjaga dan memelihara kelas dan lingkungan sekitarnya. Kecakapan
hidup dan penghargaan terhadap hidup merupakan kunci penting yang perlu
ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.
Eksplorasi maksimal dalam
penggunaan panca indera merupakan gerbang bagi anak dalam mengenali dan
memahami dunia sekitarnya. Montessori memandang anak-anak perlu mendapatkan
banyak kesempatan terhadap stimulasi panca indera mereka. Objek dan material
yang dipersiapkan dalam ruang kelas Montesorri rata-rata memberikan lebih dari
satu tujuan atau manfaat pembelajaran pada saat yang bersamaan. Benda yang
mampu menarik minat anak tidak terlalu bergantung pada kualitasnya, namun lebih
kepada peluang yang memungkinkan anak untuk melakukan sesuatu melaluinya
(Montesorri, 1967b:104).
Salah satu hal yang menarik dari
pendekatan Montessori adalah pembelajaran yang mengenalkan dan mendekatkan anak
kepada alam, baik melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran maupun materi atau
objek yang digunakan oleh anak. (Wild
dalam Suparlan , 52). Mendapat pengaruh yang cukup kuat dari pemikiran Rosseau,
pendekatan ini memandang pentingnya
membangun rasa empati dan kepedulian terhadap alam pada diri anak-anak
dalam keseharian mereka. Hal ini memberikan peluang kepada dampak jangka
panjang dalam diri anak akan konsep-konsep seperti sustainability dan penghargaan terhadap alam. Konsep-konsep ini
mendobrak pandangan bahwa pendidikan berarti materi yang mahal dikarenakan
bahan-bahan yang digunakan semaksimal mungkin berasal dari alam dan dirancang
sedemikian rupa agar memiliki daya tahan yang cukup kuat dan lama.
Perkembangan sekolah-sekolah yang
mengusung pendekatan Montesorri cukup signifikan, tidak hanya di tempat
lahirnya, melainkan di berbagai negara lain, terutama dalam pendidikan anak
usia dini di Indonesia. Kendati demikian, ada kecenderungan pergeseran pola
pandang terhadap metode ini dari akarnya. Adopsi sistem pendidikan yang dibawa
dari luar ke dalam negeri memberikan semacam perbedaan strata yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal
ini berdampak pada mahalnya biaya pendidikan dan penggunaan material yang
justru bertolak belakang dengan konsep akar Montessori sendiri yang
memanfaatkan apa yang disediakan oleh alam. Dikarenakan mahalnya biaya pendidikan
sekolah yang menggunakan pendekatan Montessori ke dalam kurikulumnya sejauh ini
hanya dinikmati oleh anak-anak yang berasal dari kalangan menengah ke atas.
D. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari berbagai sudut terutama sistem
pembelajaran, Montessori merupakan suatu bentuk alternatif dalam dunia
pendidikan. Keberlangsungan dan daya tahan kurikulumnya yang telah teruji dan
menunjukkan keberhasilan selama lebih dari satu abad dapat menjadi pertimbangan
bagi sekolah-sekolah yang mengedepankan sistem pembelajaran yang berpusat pada
anak. Pendekatan ini memberikan suatu pola pandang yang berbeda dalam melihat
anak sebagai individu dan bagaimana mereka menjalani proses perkembangan mereka
hingga mencapai titik maksimum sesuai dengan tahapan usia. Konsep-konsep inti
yang dihadirkan melalui pendekatan Montessori tidak dapat dielakkan bersifat
fungsional riil yang merupakan bagian dari kehidupan anak-anak secara langsung
dan ditujukan untuk kepentingan mereka sebagai bagian dari masyarakat sosial.
Konsep kebebasan berdasarkan minat
dan ketertarikan siswa dalam metode pembelajaran Montessori pada satu sisi
merupakan kekuatan dan daya tarik, akan tetapi tetap memiliki beberapa aspek
yang patut menjadi pertimbangan terutama ketika diterapkan di Indonesia antara
lain ketika siswa pindah ke sekolah umum atau sekolah yang memiliki kurikulum
dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dan memiliki metode penilaian yang
juga jauh berbeda dengan Montessori. Untuk tingkat sekolah dasar ke atas, ada
kekhawatiran terutama dari orangtua ketika siswa harus berhadapan dengan
ekspektasi akademis. Sehingga implikasi yang seringkali terjadi sekolah
memodifikasi metode Montessori sehingga menghasilkan implementasi program yang
tidak utuh demi menyesuaikan dengan tuntutan pasar. Hal ini tentu saja
berdampak pada penyimpangan tujuan awal dan kekurangmaksimalan pencapaian
perkembangan siswa sebagaimana ditetapkan dalam metode Montessori.
Kendati demikian, dengan konsep
yang kuat dan mendasar, metode Montessori layak diaplikasikan ke dalam sistem
pendidikan terutama di Indonesia menggantikan sistem pendidikan yang berpusat
semata-mata guru sebagai sumber ilmu dan perhatian. Untuk itu diperlukan
kerjasama dan komunikasi yang terjalin intensif, positif dan berkesinambungan
antar berbagai pihak, terutama guru, orangtua dan administratif sekolah dalam
hal ini Kepala Sekolah selaku penentu kebijakan dan penanggungjawab
keberlangsungan kurikulum secara menyeluruh. Informasi yang lengkap dan detil
perlu disampaikan kepada orangtua mengenai metode melalui sosialisasi, workshop
dan pertemuan guru-orangtua atau kepala sekolah-orangtua.
Sekolah yang ingin berpijak pada
kurikulum dengan pendekatan Montessori harus berpegang pada panduan utuh
penyelenggaraan sistem pendidikannya. Fasilitas fisik seperti penyediaan ruang kelas
yang baik dan luas wajib diperhatikan
dan dipersiapkan sejak awal untuk membuka kesempatan bagi siswa untuk bebas
berekplorasi, material dan bahan-bahan pembelajaran yang multifungsi dan tahan
lama menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program ini.
Dari sisi pengajar perlu adanya
pelatihan intensif serta penyediaan kesempatan untuk mengembangkan diri secara
profesional yang diberikan atau diadakan oleh pihak sekolah dalam rangka meningkatkan
kapabilitas mereka. Guru harus mampu mengubah pola pandang konservatif dari
memandang dirinya sebagai satu-satunya sumber ilmu menjadi memposisikan dirinya
sebagai pembimbing dan pengayom. Konsep Montessori yang fleksibel bila
diaplikasikan ke budaya dan lingkungan manapun, maka bila diaplikasikan di
Indonesia dapat menyesuaikan dengan nilai-nilai yang umum ditemui di budaya
setempat, terutama dari sisi guru sebagai teladan dan panutan sosial.
Bila sekolah mampu menerapkan
metode pembelajaran Montessori secara utuh menyeluruh maka bukan mustahil akan
menghasilkan individu-individu siswa yang memiliki mandiri, memiliki kemampuan
mengambil keputusan, percaya diri, berempati dan menghargai serta memiliki
kecakapan sosial yang baik dalam pergaulan dengan orang lain.
E. DAFTAR RUJUKAN
Montessori, M., 1967b, The Discovery of the Child. Notre Dame,
IN:FIdes
Roopnarine, Jaipul J. and Johnson,
James E., 2009, Pendidikan Anak Usia Dini
dalam berbagai pendekatan, Kencana Prenada Media Group, Indonesia
Suparlan, 1984, Aliran-aliran Baru dalam Pendidikan, Andi
Offset, Yogyakarta
No comments:
Post a Comment