Thursday, December 4, 2014

BOOK CHAPTER REVIEW-Pendidikan Montessori Saat Ini

Pendidikan Montessori Saat ini
Penulis: Martha Torrence dan John Chattin-McNichols
Dalam Buku Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pendekatan
Penulis: Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson

Disusun oleh:
Irma Angela Soekma            NIM: 1402252           

Program Pasca Sarjana
Pendidikan Anak Usia Dini
Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung
2014


A.    IDENTITAS BAB
                                           
a.       Judul         : Pendidikan Montessori Saat ini

b.      Pengarang : Martha Torrence dan John Chattin-McNichols

c.       Halaman    : 381-415

d.      Penerbit     : Kencana Prenada Media Group, Indonesia, 2009

B.     ISI BAB
Bab ini memberikan sejarah singkat Pendekatan Montessori yang merupakan salah satu pendekatan pionir dalam pendidikan anak usia dini di Amerika dan diadopsi di beberapa sekolah di seluruh dunia. Dijelaskan bahwa awal mula pendekatan Montessori dicetuskan oleh seorang dokter wanita berkebangsaan Italia yang juga bergerak di bidang antropologi bernama Maria Montessori. Adapun dalam profesinya sebagai dokter, ia banyak menangani anak-anak usia dini yang mengalami cacat dan membuat program pengasuhan untuk membantu mereka. Dalam perkembangannya, metode Montessori mendapat tempat dikarenakan program yang kuat dan melibatkan berbagai jenjang usia anak serta fleksibilitas dalam adaptasi ke budaya dan lingkungan manapun.
Perbedaan yang cukup signifikan dari pendekatan Montessori dibandingkan dengan pendekatan pendidikan lainnya antara lain dapat dilihat dari:
1.      Pembauran pengelompokan usia dalam satu kelas/ruangan berdasarkan range usia per 3 tahun – anak usia 3-5 tahun, 6-8 tahun dan seterusnya.
2.      Seting ruangan kelas yang dipenuhi rak-rak yang mudah diakses oleh anak dan terbuka yang dipenuhi dengan objek dan material yang diatur dengan cermat untuk dapat dipilih oleh anak-anak sesuai dengan minat mereka.
3.      Penyediaan ruang terbuka di lantai sehingga anak-anak dapat bekerja dengan bebas.
4.      Masing-masing anak memiliki alat peraga yang mereka buat sendiri.
5.      Tidak ada suasana kompetisi di antara siswa. Siswa menyelesaikan tugas mereka sesuai dengan minat dan ritme kerja masing-masing. Sebagai gantinya suasana kolaborasi tercipta melalui kerjasama antar siswa, terutama dari anak yang lebih tua kepada yang lebih muda.  Ditanamkan pada diri siswa bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu.
6.      Asesmen atau penilaian siswa didasarkan pada perkembangan masing-masing individu melalui portofolio atau hasil kerja serta observasi guru secara intensif dan berkesinambungan.
7.      Penanaman tanggungjawab individu melalui pembiasaan pemeliharaan kelas, termasuk kerapihan dan kebersihan.
Dilihat dari segi kurikulum, Pendekatan Montessori banyak memasukkan kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan praktis, penginderaan, bahasa, matematika, seni dan musik dan budaya secara geografis dan sains.
Peranan guru menurut pendekatan Montessori bukan sebagai ‘pengajar’ melainkan pengamat yang secara aktif meneliti dan mengikuti setiap perkembangan anak serta memberikan materi yang responsif serta memberikan saran, bimbingan, stimulasi dan dorongan yang sesuai pada siswa.

C.    PEMBAHASAN
Metode Montessori merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam dunia pendidikan yang telah teruji waktu selama lebih dari 100 tahun. Keberhasilannya dalam memberikan pespektif yang berbeda terhadap pendidikan dan perkembangan anak telah membuat banyak negara yang mengadopsi atau memodifikasi pendekatan ini. Montesorri memandang kebebasan mengeksplorasi dan mencoba-coba mutlak diberikan kepada anak-anak untuk mencapai perkembangan yang maksimum serta menjadi manusia yang bertanggungjawab dan kelak mampu menjadi bagian dari masyarakat secara sukses.
Pembelajaran dalam pendekatan Montessori berpusat pada anak dan bermain merupakan bagian dari proses perkembangan mereka. Montesorri meyakini bahwa anak membangun pikirannya selangkah demi selangkah dan menyerap pengetahuan melalui pengalaman dalam perkembangannya. Hal ini otomatis mematahkan pandangan konservatif bahwa anak-anak terlahir dengan ‘fixed intelligence’ dan faktor keturunan merupakan satu-satunya penentu perkembangan anak. Pemikiran Montessori banyak mendapatkan pengaruh dari Rosseau, Pestalozzi dan Froebel dimana penekanan terhadap pentingnya lingkungan yang bebas dan penuh kasih sayang berdampak terhadap berkembangnya potensi bawaan anak. Dua hal yang sangat vital dalam perkembangan anak adalah interaksi terpadu antara anak dan lingkungannya serta kebebasan bagi anak.
Pengalaman penulis yang merupakan pengajar Montesorri berpengalaman selama lebih dari 35 tahun mampu memberikan gambaran secara singkat dan padat tentang sistem pembelajaran kelas Montessori. Salah satu hal yang cukup penting yang disampaikan adalah mengenai pengaturan ruang kelas yang cukup luas dimana anak dapat menggunakan ruang terbuka secara bebas dalam melakukan kegiatan yang menjadi minat dan ketertarikan mereka. Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung pembelajaran dalam memberikan rasa bebas bagi anak dalam mengeksplorasi.
Peran guru ditampilkan dengan sangat baik dalam buku ini sehingga memberikan gambaran mengenai posisi guru dalam proses pembelajaran dan perkembangan anak. Dengan peran guru sebagai pembimbing dan bukan satu-satunya sumber ilmu memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dan mengembangkan kecakapan sosialnya dengan orang lain di sekitarnya. Anak belajar untuk mandiri dan menentukan sendiri bentuk bantuan yang dibutuhkannya serta memikirkan kepada siapa atau dimana ia bisa mencari jawaban atas pertanyaan atau kesulitannya. Dalam hal ini anak memegang kendali penuh atas pembelajarannya yang otomatis memberikan efek positif bagi pembangunan kepercayaan dirinya.
Anak mengingat sesuatu dengan sangat kuat dan dalam jangka waktu yang lama ketika ia mampu mengkoneksikan pembelajarannya langsung dengan apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pengelompokan kelas berdasarkan pembauran usia mewakili realitas hidup bahwa manusia berinteraksi dengan berbagai karakter, usia dan kemampuan yang sama maupun berbeda.  Hal ini memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengenali lingkungannya dan beradaptasi dengan orang-orang disekitarnya yang kelak akan berkontribusi pada pembangunan karakter positif dalam membangun hubungan sosial. Disiplin yang ditanamkan adalah dalam bentuk tanggungjawab yang diejawantahkan secara nyata dalam rutinitas menjaga dan memelihara kelas dan lingkungan sekitarnya. Kecakapan hidup dan penghargaan terhadap hidup merupakan kunci penting yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.
Eksplorasi maksimal dalam penggunaan panca indera merupakan gerbang bagi anak dalam mengenali dan memahami dunia sekitarnya. Montessori memandang anak-anak perlu mendapatkan banyak kesempatan terhadap stimulasi panca indera mereka. Objek dan material yang dipersiapkan dalam ruang kelas Montesorri rata-rata memberikan lebih dari satu tujuan atau manfaat pembelajaran pada saat yang bersamaan. Benda yang mampu menarik minat anak tidak terlalu bergantung pada kualitasnya, namun lebih kepada peluang yang memungkinkan anak untuk melakukan sesuatu melaluinya (Montesorri, 1967b:104).
Salah satu hal yang menarik dari pendekatan Montessori adalah pembelajaran yang mengenalkan dan mendekatkan anak kepada alam, baik melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran maupun materi atau objek yang digunakan oleh anak. (Wild dalam Suparlan , 52). Mendapat pengaruh yang cukup kuat dari pemikiran Rosseau, pendekatan ini memandang pentingnya  membangun rasa empati dan kepedulian terhadap alam pada diri anak-anak dalam keseharian mereka. Hal ini memberikan peluang kepada dampak jangka panjang dalam diri anak akan konsep-konsep seperti sustainability dan penghargaan terhadap alam. Konsep-konsep ini mendobrak pandangan bahwa pendidikan berarti materi yang mahal dikarenakan bahan-bahan yang digunakan semaksimal mungkin berasal dari alam dan dirancang sedemikian rupa agar memiliki daya tahan yang cukup kuat dan lama.
Perkembangan sekolah-sekolah yang mengusung pendekatan Montesorri cukup signifikan, tidak hanya di tempat lahirnya, melainkan di berbagai negara lain, terutama dalam pendidikan anak usia dini di Indonesia. Kendati demikian, ada kecenderungan pergeseran pola pandang terhadap metode ini dari akarnya. Adopsi sistem pendidikan yang dibawa dari luar ke dalam negeri memberikan semacam perbedaan strata yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini berdampak pada mahalnya biaya pendidikan dan penggunaan material yang justru bertolak belakang dengan konsep akar Montessori sendiri yang memanfaatkan apa yang disediakan oleh alam. Dikarenakan mahalnya biaya pendidikan sekolah yang menggunakan pendekatan Montessori ke dalam kurikulumnya sejauh ini hanya dinikmati oleh anak-anak yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

D.    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari berbagai sudut terutama sistem pembelajaran, Montessori merupakan suatu bentuk alternatif dalam dunia pendidikan. Keberlangsungan dan daya tahan kurikulumnya yang telah teruji dan menunjukkan keberhasilan selama lebih dari satu abad dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah-sekolah yang mengedepankan sistem pembelajaran yang berpusat pada anak. Pendekatan ini memberikan suatu pola pandang yang berbeda dalam melihat anak sebagai individu dan bagaimana mereka menjalani proses perkembangan mereka hingga mencapai titik maksimum sesuai dengan tahapan usia. Konsep-konsep inti yang dihadirkan melalui pendekatan Montessori tidak dapat dielakkan bersifat fungsional riil yang merupakan bagian dari kehidupan anak-anak secara langsung dan ditujukan untuk kepentingan mereka sebagai bagian dari masyarakat sosial.
Konsep kebebasan berdasarkan minat dan ketertarikan siswa dalam metode pembelajaran Montessori pada satu sisi merupakan kekuatan dan daya tarik, akan tetapi tetap memiliki beberapa aspek yang patut menjadi pertimbangan terutama ketika diterapkan di Indonesia antara lain ketika siswa pindah ke sekolah umum atau sekolah yang memiliki kurikulum dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dan memiliki metode penilaian yang juga jauh berbeda dengan Montessori. Untuk tingkat sekolah dasar ke atas, ada kekhawatiran terutama dari orangtua ketika siswa harus berhadapan dengan ekspektasi akademis. Sehingga implikasi yang seringkali terjadi sekolah memodifikasi metode Montessori sehingga menghasilkan implementasi program yang tidak utuh demi menyesuaikan dengan tuntutan pasar. Hal ini tentu saja berdampak pada penyimpangan tujuan awal dan kekurangmaksimalan pencapaian perkembangan siswa sebagaimana ditetapkan dalam metode Montessori.
Kendati demikian, dengan konsep yang kuat dan mendasar, metode Montessori layak diaplikasikan ke dalam sistem pendidikan terutama di Indonesia menggantikan sistem pendidikan yang berpusat semata-mata guru sebagai sumber ilmu dan perhatian. Untuk itu diperlukan kerjasama dan komunikasi yang terjalin intensif, positif dan berkesinambungan antar berbagai pihak, terutama guru, orangtua dan administratif sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah selaku penentu kebijakan dan penanggungjawab keberlangsungan kurikulum secara menyeluruh. Informasi yang lengkap dan detil perlu disampaikan kepada orangtua mengenai metode melalui sosialisasi, workshop dan pertemuan guru-orangtua atau kepala sekolah-orangtua.
Sekolah yang ingin berpijak pada kurikulum dengan pendekatan Montessori harus berpegang pada panduan utuh penyelenggaraan sistem pendidikannya. Fasilitas fisik seperti penyediaan ruang kelas yang baik dan luas  wajib diperhatikan dan dipersiapkan sejak awal untuk membuka kesempatan bagi siswa untuk bebas berekplorasi, material dan bahan-bahan pembelajaran yang multifungsi dan tahan lama menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program ini.
Dari sisi pengajar perlu adanya pelatihan intensif serta penyediaan kesempatan untuk mengembangkan diri secara profesional yang diberikan atau diadakan oleh pihak sekolah dalam rangka meningkatkan kapabilitas mereka. Guru harus mampu mengubah pola pandang konservatif dari memandang dirinya sebagai satu-satunya sumber ilmu menjadi memposisikan dirinya sebagai pembimbing dan pengayom. Konsep Montessori yang fleksibel bila diaplikasikan ke budaya dan lingkungan manapun, maka bila diaplikasikan di Indonesia dapat menyesuaikan dengan nilai-nilai yang umum ditemui di budaya setempat, terutama dari sisi guru sebagai teladan dan panutan sosial.
Bila sekolah mampu menerapkan metode pembelajaran Montessori secara utuh menyeluruh maka bukan mustahil akan menghasilkan individu-individu siswa yang memiliki mandiri, memiliki kemampuan mengambil keputusan, percaya diri, berempati dan menghargai serta memiliki kecakapan sosial yang baik dalam pergaulan dengan orang lain.

E.     DAFTAR RUJUKAN

Montessori, M., 1967b, The Discovery of the Child. Notre Dame, IN:FIdes
Roopnarine, Jaipul J. and Johnson, James E., 2009, Pendidikan Anak Usia Dini dalam berbagai pendekatan, Kencana Prenada Media Group, Indonesia
Suparlan, 1984, Aliran-aliran Baru dalam Pendidikan, Andi Offset, Yogyakarta

No comments:

Post a Comment