Thursday, December 4, 2014

BOOK CHAPTER REVIEW-Peranti Pikir:Pendekatan Vgotsky pada PAUD

Peranti Pikir:
Pendekatan Vgotsky pada Pendidikan Anak Usia Dini
Penulis: Elena Bodrova & Deborah J.Leong
Dalam Buku Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pendekatan
Penulis: Jaipul L.Roopnarine&James E.Johnson

Disusun oleh:
Irma Angela Soekma            NIM: 1402252           

Program Pasca Sarjana
Pendidikan Anak Usia Dini
Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung
2014

A.    IDENTITAS BAB
                                           
a.       Judul         : Peranti Pikir: Pendekatan vgotsky pada Pendidikan Anak Usia
  Dini

b.      Pengarang : Elena Bodrova & Deborah J.Leong

c.       Halaman    : 243-264

d.      Penerbit     : Kencana Prenada Media Group, Indonesia, 2009

B.     ISI BAB
Bab ini berbicara mengenai sebuah model pendekatan dalam pendidikan anak usia dini dengan berlandaskan pada teori Vgotsky mengenai alat bantu dalam berpikir untuk menuju kepada fungsi kognitif yang disebut Peranti Pikir/mental (Tools of the Mind). Ada dua tingkatan fungsi mental yaitu rendah dan tinggi. Fungsi mental rendah bergerak di seputar sensasi, perhatian spontan, ingatan asosiatif dan kepandaian sensorimotor. Sementara fungsi mental yang lebih tinggi antara lain adalah kemampuan fokus, mengingat penalaran logis dan mengungkapkan pikiran atau ide. Vgotsky yang berlatarbelakang psikologi, percaya bahwa perkembangan manusia termasuk di dalamya anak-anak didapat dari hasil interaksi mereka dengan lingkungan sosial. Vgotsky mengatakan bahwa meskipun anak-anak membentuk pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar mereka akan tetapi proses pembentukan ini selalu terjadi dalam konteks budaya dan melalui perantara yaitu orang lain baik langsung maupun tidak. Dengan demikian, kemampuan kognitif sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial yang spesifik, bergantung pada budaya yang mewarnainya, di antaranya adalah sekolah.
Dengan berpijak pada keyakinan ini, ia menunjukkan adanya keterkaitan antara perkembangan dengan pendidikan dan pembelajaran. Inti dari bab ini adalah bahwa pendidikan dan perkembangan saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain secara dinamis. Gagasan ini diejawantahkan oleh Vgotsky melalui ZPD (Zone of Proximal Development). ZPD adalah area di antara tingkat kemandirian seorang anak dan tingkat kemampuan anak dengan bantuan eksternal. Dengan mengobservasi tingkat pencapaian anak dalam hal kemandirian maka guru dapat mengetahu potensi anak untuk menuju tingkat kognisi yang lebih tinggi. Menurut Vgotsky, ZPD dapat ditemukan dalam proses permainan pura-pura.
            Berdasarkan pada keyakinannya bahwa bentuk permainan memiliki 3 komponen yaitu anak-anak menciptakan suasana khayalan, berbagi peran dan mengikuti aturan dalam memainkan peran tertentu, Vgotsky membatasi bentuk permainan melalui permainan dramatis. Melalui bermain pura-pura, anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur sendiri perilaku fisik, sosial dan kognitif mereka. Hal ini akan berperan sebagai landasan bagi anak kelak ketika memasuki pendidikan akademis ketika mereka harus mengerjakan sesuatu berdasarkan instruksi, mengendalikan emosi dan menguasai subjek akademik.
            Vgotsky juga memberikan pandangannya terhadap bentuk pendidikan terhadap perkembangan anak difabel. Menurutnya, untuk membantu pencapaian perkembangan kognitif pada anak berkebutuhan khusus, diperlukan pula alat bantu sebagai pengganti atau penyokong kedisfungsian anggota-anggota tubuh yang penting dalam proses perkembangan kognitif anak. 
C.    PEMBAHASAN
Tulisan Elena dan Deborah ini adalah merupakan hasil pengembangan mereka terhadap teori guru mereka, Lev Vgotsky dalam konteks sejarah budaya; yang lebih dikenal di dunia barat dengan pendekatan sosial budaya. Keduanya mentransfer teori Vgotsky mengenai hubungan antara perkembangan dengan pendidikan dan pembelajaran ke dalam pendidikan anak usia dini dengan menciptakan model pendekatan Peranti Mental (Tools of Mind). Dengan berpegang pada fakta-fakta bahwa perkembangan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, bahasa berperan besar dalam perkembangan mental (kognisi), maka pengajaran harus memperhatikan tingkat kemandirian anak namun tetap memperhatikan hasil observasi ZPD dan guru harus mendorong bahkan menciptakan kesempatan bagi anak untuk menyelesaikan masalah.
Konsep Peranti Mental ini banyak diadopsi di negara-negara barat terutama Amerika di dalam program-program Head Start, prasekolah dan taman kanak-kanak. Sebagaimana Vgotsky menempatkan bermain sebagai bagian inti dalam proses perkembangan anak usia dini, Konsep Peranti Mental juga menggunakan permainan sebagai sarana bagi perkembangan kemampuan kognitif anak usia dini.
With the right approach, a plain white hat and a plate full of yarn spaghetti can contribute to a young child’s cognitive development.  (Bodrova&Leong, 2003).
Meskipun kedua penulis banyak menekankan aplikasi Konsep Peranti Mental ini pada bentuk permainan dramatis, namun implementasi riil yang diadopsi ke dalam berbagai program tersebut mengalami modifikasi seperti adanya aktivitas yang didesain untuk melakukan permainan representasi simbolis ini, seperti misalnya perencanaan bermain dengan menggunakan tehnik Scaffolded Writing. Sebagai contoh, misalkan anak bermain peran sebagai seorang ibu yang akan berbelanja dan harus menulis daftar belanjaan. Guru berperan mengarahkan dan membantu anak menuangkannya dalam bentuk gambar. Selain itu juga ada yang membuat semacam peralatan, salah satunya yang dinamakan Sound Map yang bertujuan mendorong anak mulai belajar mengeja.
Kedua penulis meyakini bahwa anak-anak secara maksimal mengembangkan kemampuan sosial, emosi dan kognitif mereka melalui permainan pura-pura. Di dalam bermain representatif, anak-anak banyak menggunakan bahasa dan ini sangat vital bagi perkembangan kognitif anak. Pada saat yang bersamaan anak belajar menyelesaikan masalah dan melatih perasaan empati. Semua perkembangang ini pada muaranya adalah sebagai bekal bagi anak dalam menerima instruksi guru ketika diberikan tugas akademis, bersosialisasi dengan teman sebaya dan menyelesaikan masalah.
Simbol merupakan salah satu bentuk peranti mental yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pikiran mereka. Penulis memandang adanya kesejajaran fungsi antara tulisan dalam bentuk kombinasi dan penggabungan huruf dengan gambar atau corat-coret anak.
Penulis secara jelas memberikan perbandingan secara praktis di kelas dalam elemen permainan dan rutinitas kelas antara Kelas Peranti Pikir dan Sebagian besar keals PAUD. Ini memudahkan penggambaran secara aplikatif bagi guru.
Dari pendapat dan cara pandang kedua penulis ini, saya sependapat bahwa dalam pendidikan anak-anak usia dini, bentuk pendekatan terbaik dalam pembelajaran adalah melalui metode bermain. Bermain peran dapat menjadi suatu bentuk sarana peranti mental yang berkontribusi besar dalam mengarahkan fungsi pikir anak ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu perkembangan sosial, emosi dan kognitif. Melalui bermain peran, anak-anak mengembangkan kemampuan berbahasa, termasuk mendengarkan pendapat orang lain dan berbicara untuk menyampaikan maksud. Mereka belajar berbagi dan menyelesaikan masalah dengan cara berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Perkembangan kognitif dapat dilihat ketika intensitas durasi dan kontekstual permainan meningkat. Pada tingkat ini, guru dapat masuk untuk memberikan stimulasi yang lebih kompleks seperti memberikan pertanyaan atau parafrase yang menantang fungsi pikir anak terhadap arah permainan dan interelasi perannya terhadap peran anak lain.
Pada dasarnya, Model Peranti Mental ini hanyalah satu dari sejumlah usaha pendekatan terhadap pendidikan anak usia dini melalui kacamata konsep sosiokultural Vgotsky.  Menurut saya, ada lebih banyak lagi sarana peranti mental yang dapat mendukung metode pendekatan ini, seperti pendekatan proyek, pendekatan High Scope yang berfokus pada ketertarikan siswa secara aktif atau pendekatan naturalis dan sains.
Bila merujuk pada perbedaan yang ditampilkan penulis pada kelas PAUD dan Peranti Pikir/Mental, saya dapat mengelompokkan kebanyakan kelas PAUD di Indonesia masih berpusat pada cara klasik dimana keberpusatan pembelajaran terletak pada guru dan permainan peran anak berlangsung tanpa arah tujuan serta tidak mendorong anak untuk berpikir. Kegiatan bermain peran cenderung hanya sebagai pengisi waktu dan anak-anak tidak dirangsang untuk mengeksplorasi lebih jauh proses permainan itu sendiri, anak-anak tidak terlibat dan terlatih dalam membuat rencana bermain.
Secara umum, bab ini mampu memberikan cara pandang yang berbeda bagi guru dalam menerapkan pembelajaran yang efektif dan mampu meningkatkan fungsi pikir anak seiring dengan perkembangan mereka.

D.    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Peranti mental atau peranti pikir merupakan salah satu metode pendekatan dalam mendukung perkembangan fungsi pikir anak usia dini ke tingkat yang lebih tinggi. Bermain peran merupakan bentuk peranti mental yang dianggap dapat memberikan stimulasi dalam perkembangan kemampuan sosial, emosi dan kognitif anak usia dini sebagai bekal dasar untuk memasuki pendidikan akademis di sekolah dasar. Dalam bermain peran anak dapat belajar cara mengkomunikasikan ide atau pikirannya, membangun empati serta bahasa.
Untuk mengadopsi metode pendekatan ini, sekolah harus memastikan bahwa mereka memiliki kualitas guru yang memahami tahapan perkembangan anak dan mampu memberikan bimbingan dan pengarahan serta memahami tingkat kemandirian siswanya sehingga guru dapat memberikan stimulasi dalam mendorong perkembangan siswanya. Guru harus mampu menempatkan posisinya sebagai fasilitator bagi kemajuan siswa dan bukan sebagai pembuat keputusan mutlak dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu mengarahkan siswa dalam menghargai proses pembelajaran dan tidak hanya terfokus pada hasil.
Sekolah juga perlu memberikan perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan fungsi pikir mereka. Selain itu, guru-guru juga harus dibekali dengan pengetahuan khusus mengenai penggunaan alat dan strategi penggunaanya dalam rangka membantu siswa mencapai perkembangan fungsi pikir optimal.

E.     DAFTAR RUJUKAN
Bodrova, Elena and Leong, Deborah J., 1996, Tools of the Mind: The Vgotskian     Approach to Early Childhood Education. Englewood Cliffs, NJ: Merril.
Bodrova, Elena and Leong, Deborah J., 2003, The Importance of Being Playful, Educational Leadership, Vol. 60, No.7, April, Association for supervision and Curriculum Development
Roopnarine, Jaipul J. and Johnson, James E., 2009, Pendidikan Anak Usia Dini dalam berbagai pendekatan, Kencana Prenada Media Group, Indonesia

No comments:

Post a Comment